Uji Fisik Kualitas Kacang Hijau

 

 

 

Uji fisik kualitas kacang hijau – kacang hijau (Vigna radiata L.) adalah golongan kacang-kacangan yang berasal dari Asia. Produksi kacang hijau membutuhkan ilmu dan juga standar teknis, prosedur, dan legislasi yang baik untuk bisa menghasilkan kacang hijau dengan kualitas sesuai dengan standar yang ada.

Kacang hijau berkualitas tinggi harus memiliki sanitasi, fisik, genetik, dan karakteristik fisiologis yang tinggi. Kualitas biji kacang hijau dapat dievaluasi dengan menggunakan beberapa pengujian sebagai berikut.

Kadar air

Uji fisik kualitas kacang hijau yang pertama yaitu uji terhadap kadar air dalam kacang hijau. Uji kadar air kacang hijau ini dilakukan dengan menggunakan metode greenhouse yang menggunakan sirkulasi udara secara paksa atau forced air circulation pada suhu kurang lebih 105 derajat Celcius selama 24 jam.

Setelah sehari didiamkan pada kondisi forced air circulation, kemudian sampel kacang hijau akan disimpan di dalam desikator untuk mengurangi temperatur dan kemudian dilakukan penimbangan. Hasil penimbangan menunjukkan persentase kadar airnya (wet basis).

Kadar air dalam kacang hijau harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Berdasarkan standar dari USDA, batas kadar air maksimum di dalam kacang hijau yaitu 18%. Sedangkan, berdasarkan standar dari AGMARK Grade, batas maksimum kadar air di dalam kacang hijau dibedakan menjadi tiga berdasarkan dengan jenis gradenya.

  • Special: 10.0%
  • Standard: 12.0%
  • General: 14.0%

Uji perkecambahan

Uji fisik kualitas kacang hijau yang kedua yaitu uji perkecambahan. Pengujian ini menggunakan 4 macam replikasi perlakuan terhadap biji kacang hijau sebanyak 50 biji.

Dua jenis perlakuan pertama yaitu kacang hijau yang ditempatkan pada 2 lembar tisu yang dilembabkan dengan air distilasi (2,5 kali dari berat tisu kering) dan diletakkan untuk menunggu perkecambahan di dalam bak perkecambahan (BOD) dengan temperatur konstan yaitu 25 derajat Celcius.

Kemudian dilakukan estimasi terhadap persentase perkecambahan normal pada 7 hari setelah penyemaian. Hasil uji perkecambahan dituliskan sebagai persentase dari perkecambahan normal per perlakuan.

Perhitungan perkecambahan pertama

Uji fisik kualitas kacang hijau yang ketiga yaitu perhitungan perkecambahan pertama. Uji ini dilakukan secara bersamaan dengan uji sebelumnya yaitu uji perkecambahan dengan estimasi persentase bibit normal pada lima hari setelah penyemaian. Hasilnya menunjukkan persentase dari biji normal. Perkecambahan dan perhitungan perkecambahan pertama tidak dipengaruhi oleh jarak antar baris dan jumlah tanaman per meter. Sedangkan, untuk panjang akar dipengaruhi secara signifikan oleh jarak baris.

Tunas dan panjang akar bibit

Uji kualitas fisik kacang hijau yang keempat yaitu tunas dan panjang akar bibit. Sepuluh bibit normal digunakan setelah pengujian perkecambahan pada setiap replikasi.

Tunas dan akar diukur dengan menggunakan penggaris. Hasilnya dituliskan dalam satuan sentimer (cm). Jarak antar baris dan juga mempengaruhi panjang tunas kacang hijau.

Jarak baris yang baik yaitu 50 cm yang menunjukkan rata-rata panjang tunas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jarak 25 cm. Selain itu, jumlah bibit per meter juga ikut mempengaruhi panjang tunas secara signifikan.

Seedling dry mass

Uji kualitas fisik kacang hijau yang kelima yaitu seedling dry mass. Pengujian ini dilakukan pada 10 biji normal yang dihasilkan dari proses perkecambahan kecuali kotiledon. Replikasi dari setiap perlakuan ditempatkan pada kantung kertas di dalam oven dengan tekanan udara paksa pada suhu 80 derajat Celcius selama 24 jam.

Kemudian, dilakukan penimbangan berat dengan menggunakan timbangan berskala 0,001 g. Hasil dari rata-ratanya ditunjukkan dalam jumlah gram per benih.

Seedling emergence

Uji fisik kualitas kacang hijau yang keenam yaitu seedling emergence. Pengujian ini dilakukan dengan menempatkan substrat yang telah dicuci dan disortir dan dilembabkan dengan menggunakan air distilasi hingga mencapai kapasitas retensi sebesar 60%.

Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan replikasi dari 50 biji yang terdistribusi per perlakuan. Evaluasi hasil uji dilakukan selama 14 hari setelah pengujian dan hasilnya dinyatakan dalam persentase.